Peternak di Kampung Pasiron, Depok, Jawa Barat, berpotensi memproduksi satu ton jangkrik dari lahan 200 meter persegi. Usaha ini vital bagi hobi burung kicau.
Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, JAWA BARAT — Peternak di Kampung Pasiron, Depok, bertahan membudidayakan jangkrik meski dihadapkan pada tantangan cuaca dan harga, Sabtu (25/7/2026).
Jangkrik menjadi pakan utama bagi para penghobi burung karena kandungan proteinnya yang tinggi. Permintaan pun tetap stabil, terutama dari wilayah Jabodetabek.
Di Kampung Pasiron, Eka (50) bersama sejumlah peternak lainnya masih menjaga pasokan jangkrik untuk memenuhi kebutuhan pasar. Budidaya dilakukan menggunakan boks kayu dengan masa panen sekitar 30 hingga 35 hari.
Setiap boks diisi telur jangkrik yang didatangkan dari Tulungagung. Media budidayanya memanfaatkan tray telur, gedebok pisang, klaras, serta pakan pur dan daun singkong.
Cuaca panas menjadi tantangan terbesar dalam budidaya. Kondisi tersebut dapat mengganggu pertumbuhan jangkrik dan menurunkan hasil panen.
Selain cuaca, serangan hama ulat juga menjadi ancaman yang harus diantisipasi para peternak agar produksi tetap optimal.
Di tingkat peternak, harga jual jangkrik masih bertahan sekitar Rp26.000 per kilogram, meski harga di tingkat pengepul telah meningkat akibat pasokan yang berkurang.
“Permintaan tetap ada, tetapi tantangan cuaca dan harga menjadi ujian bagi peternak untuk bertahan.”
Kampung Pasiron yang dikenal sebagai Kampung Jangkrik kini mengalami penurunan jumlah peternak, dari sekitar 300 orang menjadi hanya sekitar 20 orang.
Meski demikian, para peternak tetap optimistis menjalankan usaha tersebut karena kebutuhan jangkrik sebagai pakan burung kicau diyakini akan terus ada.
Perjalanan ke Bogor tak lengkap tanpa mencicipi kelezatan kuliner tradisionalnya. Simak daftar...